Oleh: Khilmi Zuhroni , (Ketua Majelis Lingkungan Hidup PDM Kotawaringin Timur) Suatu hari kamu bangun pagi, buka keran, dan tidak ada air y...
Oleh: Khilmi Zuhroni,
(Ketua Majelis Lingkungan Hidup PDM Kotawaringin Timur)
Suatu hari kamu bangun pagi, buka keran, dan tidak ada air yang keluar. Bukan karena PDAM-nya lagi rusak, tapi karena sumber airnya sudah habis diborong oleh korporasi sejak puluhan tahun. Bayangkan hal itu terjadi. Kedengarannya seperti sekedar cerita. Tapi bagi jutaan warga Indonesia, ini bukan cerita khayal, ini nyata. Benar-benar sedang terjadi, perlahan-lahan, sambil kita sibuk scroll media sosial.
Kementerian Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan per Maret 2025, mencatat bahwa sekitar 28 juta warga Indonesia masih kesulitan mendapatkan akses air bersih. Sungai-sungai besar seperti Citarum, Brantas, Musi, dan Batanghari mengalami penurunan kualitas selama tiga tahun berturut-turut.
Indeks kualitas air nasional tahun 2024 bahkan hanya menyentuh angka 51,78, yang masih jauh di bawah target nasional. Sementara itu, enam dari sepuluh provinsi dengan kualitas air terburuk berada di Pulau Jawa, merupakan pusat perekonomian nasional.
Forum Air Dunia bahkan pernah memprediksi bahwa Indonesia akan kehilangan sumber air bersih pada tahun 2040. Hanya tinggal empat belas tahun lagi. Sebagian kita mungkin masih sempat menyaksikannya sendiri.
Ditengah kondisi 28 juta warga kesusahan air, ironisnya, bisnis air minum dalam kemasan (AMDK) di Indonesia sedang dalam kondisi prima. Pasar AMDK nasional bernilai sekitar USD 3,80–3,92 miliar pada 2024, dan diproyeksikan terus mengalami pertumbuhan.
Menurut data BPOM, terdapat tidak kurang dari 1.032 perusahaan AMDK yang beroperasi di seluruh Indonesia dengan lebih dari 7.780 produk terdaftar dan lebih dari 2.100 merek beredar di pasaran. Dari skala perusahaan multinasional hingga usaha isi ulang galon di pemukiman padat.
Angka itu terdengar seperti keberhasilan industri. Tapi sisi gelapnya adalah semakin besar bisnis air kemasan berkembang, semakin dalam pertanyaan kita tentang siapa yang sebenarnya menguasai sumber-sumber air strategis bangsa ini.
Oktober 2025 tahun lalu, publik dihebohkan oleh temuan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat melakukan inspeksi ke pabrik Aqua di Subang. Terungkap bahwa sumber air yang digunakan bukan dari mata air pegunungan seperti yang selama ini dicitrakan dalam iklan, melainkan dari sumur bor dalam di kedalaman 60 hingga 140 meter di bawah permukaan tanah. DPR bahkan menyebut ada potensi pelanggaran HAM dan Undang-Undang Perlindungan Konsumen dalam kasus ini.
Artikel ini telah tayang di suaramuhammadiyah.id dengan judul: Kedaulatan Air di Tengah Krisis Iklim, https://www.suaramuhammadiyah.id/read/kedaulatan-air-di-tengah-krisis-iklim

Tidak ada komentar