Page Nav

HIDE

Pages

Ads Place

https://www.uhamka.ac.id/reg

Kemandirian Perempuan dan Kesehatan: Mengurai Hubungan yang Terlalu Sering Diabaikan

Khilmi Zuhroni, Direktur Journal Of Social Studies   BEDAH JURNAL   Kemandirian Perempuan dan Kesehatan: Mengurai Hubungan yang Terlalu Seri...

Khilmi Zuhroni, Direktur Journal Of Social Studies

 

BEDAH JURNAL

 Kemandirian Perempuan dan Kesehatan: Mengurai Hubungan yang Terlalu Sering Diabaikan

Oleh : Khilmi Zuhroni

Sejauh ini, diskursus kesehatan masyarakat sering terfokus pada ketersediaan layanan medis, angka cakupan imunisasi, atau kualitas fasilitas kesehatan. Namun, sebuah kajian review terbaru Januari 2026 dalam International Journal of Social Economics menggarisbawahi sebuah insight penting: kesehatan perempuan tidak dapat dipisahkan dari kemandirian mereka dalam ranah ekonomi, sosial, politik, dan budaya.

Artikel yang berjudul “Female Independence and Health Outcomes: A Review of Economic, Social, Political, and Cultural Linkages”  karya Shristy Goel dan Puneet Kumar Arora ini berupaya menyintesiskan bukti ilmiah global yang tersebar pada studi-studi empiris, dan menarik kesimpulan strategis yang sering kali luput dari perhatian pembuat kebijakan: kesehatan perempuan merupakan refleksi dari struktur sosial yang mendukung atau malah mengekang kebebasan dan kemampuan perempuan untuk membuat keputusan penting terkait hidup mereka sendiri.

Ekonomi: Tidak Cukup Hanya Pendapatan

Secara intuitif, perempuan dengan akses terhadap penghasilan cenderung memiliki peluang lebih baik dalam mengakses layanan kesehatan. Namun, kajian ini menunjukkan bahwa sekadar memiliki pendapatan tidak otomatis menciptakan otonomi kesehatan. Kontrol atas pendapatan keluarga dan keputusan belanja kesehatan sering kali masih didominasi struktur patriarkal di rumah tangga. Perempuan yang secara formal bekerja atau memiliki penghasilan sendiri belum tentu memiliki ruang untuk menggunakan sumber daya tersebut demi kebutuhan kesehatan dirinya sendiri atau anak-anaknya.

Hal ini mencerminkan realitas di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, di mana ketimpangan kendali atas pengambilan keputusan di dalam keluarga memperlemah efek positif pemberdayaan ekonomi terhadap kesehatan perempuan.

Norma Sosial dan Budaya: Hambatan Tak Terlihat

Lebih jauh, kajian ini menyoroti betapa norma sosial dan budaya yang mengakar kuat sering kali menjadi penghalang jauh lebih besar daripada kendala ekonomi semata. Dalam berbagai masyarakat, perempuan masih dihadapkan pada stigma atau aturan tak tertulis yang membatasi mobilitas, akses informasi, atau kebebasan untuk berkonsultasi dengan penyedia layanan kesehatan tanpa persetujuan suami atau figur laki-laki lainnya.

Realitas ini bukan semata soal akses fisik ke fasilitas kesehatan, tetapi menunjukkan bagaimana struktur budaya turut membentuk kemampuan perempuan untuk mengambil keputusan yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi dan kehidupan sehari-hari. Ketika perempuan tidak memiliki suara penuh atas tubuh dan pilihan hidupnya, hasil kesehatan yang optimal sulit dicapai — bahkan jika layanan itu sendiri tersedia.

Partisipasi Politik: Bagaimana Suara Perempuan Mengubah Kebijakan

Salah satu aspek yang sering kurang mendapat sorotan dalam wacana pemberdayaan adalah keterlibatan perempuan dalam politik dan pembuatan kebijakan. Tinjauan literatur ini menunjukkan bahwa ketika perempuan memiliki representasi yang lebih kuat dalam lembaga legislatif atau pengambilan keputusan publik, agenda kesehatan yang sensitif gender lebih mungkin diakomodasi.

Hal ini termasuk kebijakan akses layanan kesehatan maternal, pendidikan kesehatan reproduksi, dan jaminan sosial yang mempertimbangkan kebutuhan perempuan — bukan sekadar sebagai bagian dari keluarga atau anak, tetapi sebagai individu dengan hak kesehatan penuh.

Temuan utama dari kajian tersebut adalah sebuah peringatan bagi sektor kesehatan dan pembangunan: intervensi kesehatan yang efektif tidak bisa hanya fokus pada layanan klinis atau penyediaan fasilitas. Harus ada pendekatan lintas sektor yang menguatkan kedudukan perempuan dalam berbagai dimensi kehidupan.

Contohnya, meningkatkan akses pendidikan dan pelatihan ekonomi bagi perempuan harus didampingi dengan upaya mengubah norma sosial yang meremehkan suara perempuan dalam keluarga. Demikian pula, perlu ada strategi agar perempuan tidak hanya memiliki pendapatan, tetapi juga kontrol atas pendapatan tersebut.

Konteks Indonesia: Refleksi dan Tantangan

Dalam konteks Indonesia, tantangan serupa juga terlihat pada banyak studi lokal. Misalnya, penelitian dalam Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia menunjukkan bahwa norma patriarkal di banyak komunitas membatasi kebebasan perempuan dalam mengambil keputusan terkait layanan antenatal, akses fasilitas kesehatan, dan penggunaan sumber daya keluarga untuk kebutuhan kesehatan.

Dengan demikian, memahami hubungan antara pemberdayaan perempuan dan hasil kesehatan bukan sekadar persoalan akademis, melainkan diperlukan untuk desain kebijakan kesehatan yang lebih sensitif budaya dan gender. Termasuk dalam hal ini adalah intervensi yang menghormati konteks lokal serta upaya kolaboratif antara sektor kesehatan, pendidikan, dan pembangunan sosial.

Menuju Kebijakan yang Berkeadilan dan Efektif

Apa artinya semua ini bagi kebijakan publik? Jika tujuan pembangunan inklusif adalah meningkatkan kesehatan masyarakat secara menyeluruh, maka strategi yang hanya mengukur indikator kesehatan seperti angka imunisasi, mortalitas, atau prevalensi penyakit tidak cukup.

Kita perlu memperluas kerangka kebijakan agar memasukkan indikator yang mencerminkan derajat kemandirian perempuan — seperti keterlibatan dalam pengambilan keputusan keluarga, akses terhadap sumber daya ekonomi, dan representasi dalam sistem politik. Hal ini bukan hanya soal keadilan gender, tetapi juga soal efektivitas kebijakan kesehatan secara keseluruhan.

Kajian review ini menjadi pengingat penting bahwa kesehatan perempuan adalah penanda kompleks dari seberapa jauh sebuah masyarakat memberikan ruang bagi perempuan untuk hidup secara mandiri, menentukan pilihan, serta mengakses sumber daya yang dibutuhkan. Untuk Indonesia dan negara-negara lain yang menghadapi tantangan serupa, fokus pada pemberdayaan perempuan bukan hanya strategi pembangunan yang etis, tetapi juga prasyarat untuk mencapai tujuan kesehatan masyarakat yang lebih adil, efektif, dan berkelanjutan.


Tidak ada komentar

Ads Place