Page Nav

HIDE

Pages

Ads Place

https://www.uhamka.ac.id/reg

Refleksi Milad NA: Srikandi Penjaga Peradaban

  Refleksi Milad NA: Srikandi Penjaga Peradaban Oleh : Ayu Oktarizza (Ketua PD. Nasyiatul Aisyiyah Kotawaringin Timur) Segala puji bagi Alla...

 

Refleksi Milad NA: Srikandi Penjaga Peradaban

Oleh : Ayu Oktarizza

(Ketua PD. Nasyiatul Aisyiyah Kotawaringin Timur)

Segala puji bagi Allah SWT, dzat yang menggenggam semesta dengan segala kehendak-Nya. Kepada-Nya kita belajar bahwa kehidupan bukan hanya tentang bertahan hidup, namun tentang bagaimana menghadirkan kebermanfaatan dalam setiap denyut langkah. Sebab sebaik-baiknya manusia bukanlah yang paling banyak bicara tentang perubahan, melainkan yang paling nyata menghadirkan manfaat bagi sesama. Khoirunnas anfa’uhum linnas.

Maka pada Milad ke-95 Nasyiatul Aisyiyah ini, tema “Srikandi Penjaga Arah Peradaban” bukan sekedar rangkaian kata yang dipilih untuk memenuhi ruang-ruang seremonial. Ia adalah refleksi panjang tentang kegelisahan zaman, tentang perempuan, tentang masa depan peradaban, dan tentang sejauh mana perempuan muda hari ini mengambil peran dalam menentukan arah kehidupan manusia.

Ketika mendengar kata “Srikandi”, ingatan bangsa Indonesia seketika tertuju pada sosok perempuan tangguh dalam kisah pewayangan. Sosok yang sering dimaknai sebagai perempuan pemberani, perempuan kuat, perempuan yang mampu berdiri di tengah pertarungan besar kehidupan. Namun sesungguhnya filosofi Srikandi bukan perkara keberanian mengangkat senjata atau tampil di medan perang. Lebih jauh dari itu, Srikandi adalah simbol keteguhan menjaga nilai, menjaga kehormatan, menjaga arah perjuangan agar tidak kehilangan tujuan.

Dan hari ini, makna Srikandi itu menemukan relevansinya dalam tubuh Nasyiatul Aisyiyah.

Nasyiatul Aisyiyah sejak awal lahir merupakan organisasi perempuan muda sekaligus rumah perkaderan, ruang pembinaan, serta ladang perjuangan bagi perempuan-perempuan yang ingin menghadirkan manfaat bagi umat, bangsa, dan agama. Sebab perempuan dalam pandangan Nasyiatul Aisyiyah bukanlah pelengkap dalam peradaban, melainkan subjek utama yang ikut menentukan wajah masa depan.

Tema Milad ke-95 setidaknya memuat tiga kata penting, yakni “Srikandi”, “Menjaga Arah”, dan “Peradaban”. Ketiganya saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Peradaban tidak sempit diartikan hanya sebatas megahnya bangunan atau derasnya arus digitalisasi. Peradaban sejatinya berbicara tentang adab, akhlak, nilai, dan kemanusiaan. Karena sebanyak apapun kemajuan yang dimiliki manusia, ketika moral kehilangan arah, maka sesungguhnya peradaban sedang menuju keruntuhan secara perlahan.

Di tengah perkembangan zaman yang bergerak begitu cepat, perempuan menghadapi tantangan yang jauh berbeda dibanding masa lalu. Jika dahulu perempuan berjuang mendapatkan kesempatan untuk tampil di ruang sosial, maka hari ini tantangan terbesar bukan lagi soal kesempatan. Perempuan hari ini telah banyak diberi ruang, diberi akses pendidikan, diberi kesempatan memimpin, bahkan diberi panggung untuk menyampaikan gagasan.

Namun persoalannya bukan lagi “apakah perempuan diberi kesempatan?”, melainkan “apakah perempuan mau mengambil peran itu dengan sungguh-sungguh?”.

Apakah perempuan mau menjadi subjek perubahan?.

Apakah perempuan siap menjadi aktor dalam menjaga arah peradaban?.

Ataukah justru larut menjadi penonton zaman?.

Sebab dunia hari ini menghadirkan banyak sekali anomali sosial. Kemajuan teknologi berjalan begitu cepat, namun nilai kemanusiaan perlahan memudar. Informasi tersebar tanpa batas, namun kebijaksanaan semakin sulit ditemukan. Banyak manusia pandai berbicara tentang moral, namun miskin keteladanan. Banyak yang sibuk membangun citra, namun lupa membangun jiwa.

Dalam situasi seperti ini, kehadiran perempuan muda menjadi sangat penting. Perempuan bukan hanya pendidik pertama dalam keluarga, tetapi juga penanam nilai bagi generasi masa depan. Apa yang tumbuh dari rahim perempuan hari ini, itulah yang akan menjadi wajah bangsa di masa mendatang.

Maka Nasyiatul Aisyiyah melalui spirit Al-Ma’un terus berikhtiar menghadirkan perempuan-perempuan yang memiliki kepekaan sosial. Perempuan yang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, namun juga peduli terhadap kelompok tertindas, terpinggirkan, dan dilemahkan. Disinilah lahan dakwah Nasyiah yang perku dijaga.

Nasyiatul Aisyiyah memahami bahwa keluarga yang tangguh baik dari sisi iman, ilmu, dan pangan merupakan fondasi lahirnya masyarakat utama. Karena peradaban besar tumbuh perlahan dari rumah-rumah yang dipenuhi nilai tauhid, ilmu pengetahuan, kasih sayang, dan musyawarah.

Maka menjadi kader Nasyiatul Aisyiyah sejatinya bukan hanya tentang mengenakan seragam organisasi, menghadiri forum, ataupun menyusun program kerja. Lebih dari itu, menjadi bagian dari Nasyiatul Aisyiyah berarti bersedia memikul tanggung jawab moral sebagai perempuan berkemajuan. Perempuan yang terus belajar, terus bertumbuh, dan terus menjaga nilai di tengah dunia yang semakin kehilangan arah.

95 tahun perjalanan Nasyiatul Aisyiyah bukanlah usia yang singkat. Ia adalah jejak panjang pengabdian perempuan muda Muhammadiyah dalam merawat harapan umat dan bangsa. Dari generasi ke generasi, estafet perjuangan itu terus berjalan. Dan hari ini, tongkat perjuangan itu berada di tangan kita.

Pertanyaannya sederhana, namun cukup mendalam untuk direnungkan bersama; setelah hampir satu abad perjalanan Nasyiatul Aisyiyah, apakah kita benar-benar telah siap menjadi Srikandi Penjaga Peradaban?.

Ataukah kita hanya menjadi bagian dari keramaian zaman tanpa benar-benar menghadirkan makna?.

Albirru Manittaqo

Tidak ada komentar

Ads Place