Rapat Kerja Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP. Muhammadiyah pada 2023 (sumber:muhammadiyah.or.id) YOGYAKARTA — Majelis Pemberdayaan Masya...
YOGYAKARTA — Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah kembali menggelar Sekolah Kader Pemberdayaan Masyarakat (SEKAM) Ke-XXIII Tahun 2026, sebagai bagian dari ikhtiar sistematis Persyarikatan dalam memperkuat kerja-kerja pemberdayaan umat yang berkelanjutan. Kegiatan ini akan berlangsung dalam dua sesi, yakni 17–18 Januari dan 21–25 Januari 2026, dengan pola blended learning dan praktik lapangan di Yogyakarta dan sejumlah lokasi dampingan Muhammadiyah .
SEKAM 2026 mengusung tema “Kolaborasi untuk Pemberdayaan
Masyarakat Berkelanjutan”, menandai pentingnya sinergi lintas wilayah dan
lintas aktor dalam menjawab tantangan kemiskinan struktural, ketimpangan
sosial, serta lemahnya kapasitas komunitas akar rumput. Melalui sekolah ini,
Muhammadiyah menegaskan kembali komitmen yang telah dicanangkan sejak Muktamar
ke-45 di Malang untuk menempatkan pemberdayaan masyarakat sebagai inti dakwah
sosial Persyarikatan .
Ketua MPM PP Muhammadiyah Dr. M. Nurul Yamin menyatakan,
kebutuhan akan kader fasilitator pemberdayaan yang profesional kian mendesak
seiring berkembangnya kompleksitas persoalan sosial di berbagai wilayah.
“Banyak praktik baik yang telah kita miliki, tetapi tanpa kader yang kuat dan
terlatih, program pemberdayaan akan sulit berkelanjutan. SEKAM menjadi ruang
pembibitan kader yang memahami teori, praktik, dan ideologi Muhammadiyah secara
utuh,” ujarnya sebagaimana termuat dalam petunjuk teknis kegiatan.
Sebanyak 50 peserta akan mengikuti SEKAM 2026, terdiri atas
perwakilan MPM Wilayah (PWM) dari seluruh Indonesia serta staf MPM PP
Muhammadiyah di Jakarta dan Yogyakarta. Setiap wilayah dapat mengirim maksimal
dua peserta berusia 23–40 tahun, yang telah memiliki pengalaman pendampingan
masyarakat dan dibuktikan dengan esai praktik pemberdayaan yang pernah
dijalankan .
Rangkaian SEKAM diawali dengan Pra-SEKAM yang membekali
peserta dengan fondasi ideologis dan konseptual, mulai dari Muhammadiyah dan
Pemberdayaan Masyarakat, Teologi Al-Ma’un, Manhaj dan Dakwah Pemberdayaan,
hingga Teori Pembangunan. Memasuki sesi utama, peserta akan digembleng dengan
materi metodologis seperti Participatory Rural Appraisal (PRA), strategi
fasilitasi, advokasi dan pengorganisasian masyarakat, serta monitoring dan
evaluasi partisipatif .
Ciri khas SEKAM terletak pada kelas lapangan (rapid live-in).
Selama dua hari dua malam, peserta tinggal bersama komunitas dampingan MPM
untuk melakukan pemetaan sosial dan merancang intervensi berbasis kebutuhan
riil warga. Pendekatan ini diyakini mampu membentuk kepekaan sosial sekaligus
ketajaman analisis kader pemberdayaan Muhammadiyah.
Menariknya, komitmen peserta tidak berhenti saat pelatihan
usai. Setiap lulusan SEKAM diwajibkan menjalankan pendampingan masyarakat
selama minimal 12 bulan pascapelatihan melalui program yang mereka susun
sendiri. Dengan demikian, sekolah ini tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga
memastikan hadirnya praktik pemberdayaan nyata di lapangan .
Pembukaan resmi SEKAM Ke-XXIII akan dilakukan oleh Ketua PP
Muhammadiyah Dr. H. Anwar Abbas, didahului Stadium General tentang relasi
tauhid sosial dan teologi Al-Ma’un dalam pemberdayaan masyarakat. Sejumlah
akademisi dan praktisi pemberdayaan nasional juga akan terlibat sebagai
fasilitator, memperkuat karakter SEKAM sebagai ruang pertemuan antara nilai,
ilmu, dan praksis sosial.
Di tengah tantangan sosial yang semakin kompleks, SEKAM 2026
menjadi cermin bagaimana Muhammadiyah terus memperbarui cara berdakwahnya—tidak
sekadar melalui mimbar, tetapi lewat pendampingan yang membebaskan dan
memandirikan masyarakat. Dengan kader-kader terlatih yang akan kembali ke
wilayahnya masing-masing, Persyarikatan berharap denyut pemberdayaan dapat
semakin terasa dari pusat hingga akar rumput.[]


Tidak ada komentar