Ainnur Rahimah bersama Dr.HM. Busyro Muqoddas YOGYAKARTA, - Menjadi satu dari 67 peserta terpilih dalam Sekolah Kepemimpinan Nasional (SKN)...
![]() |
| Ainnur Rahimah bersama Dr.HM. Busyro Muqoddas |
YOGYAKARTA, - Menjadi satu dari 67 peserta terpilih dalam Sekolah Kepemimpinan Nasional (SKN) 2025 bukanlah perjalanan yang mudah. Hal ini diakui oleh Ainnur Rahimah, kader Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Kotawaringin Timur, yang bersama rekannya, Heru Fatriyadi dari Pemuda Muhammadiyah Kotim, berhasil mewakili Kalimantan Tengah dalam ajang prestisius yang dihelat Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Ainnur menuturkan bahwa perjuangan untuk lolos seleksi
nasional tersebut menuntut persiapan yang matang dan mental yang kuat. Proses
seleksi yang berlapis, mulai dari seleksi administrasi berkas, tes substansi
berupa pembuatan esai, hingga seleksi wawancara yang ketat, dirancang untuk
menyaring calon pemimpin terbaik dari seluruh penjuru Indonesia. Ia mengaku
sempat merasa pesimis ketika tidak lolos pada seleksi wawancara tahap pertama.
Namun, berkat kegigihan dan doa, ia akhirnya berhasil lolos pada kesempatan
kedua.
"Proses seleksinya sangat kompetitif. Ada banyak
tahapan yang harus dilalui, mulai dari seleksi berkas, penulisan naskah atau
makalah tentang isu strategis, hingga wawancara yang menguji wawasan kebangsaan
dan kepemimpinan. Saya sempat gagal di wawancara tahap awal, namun
Alhamdulillah diberi kesempatan lagi dan akhirnya berhasil," tutur Ainnur
saat dihubungi di sela-sela kegiatan di Yogyakarta, Selasa (18/11/2025).
Baca juga : Dua Kader AMM Kotim Tembus Seleksi Ketat SKN 2025
Perjuangan tersebut, menurutnya, terbayar lunas dengan
kualitas program yang ia terima. Baik Ainnur maupun Heru Fatriyadi merasa
sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari program kaderisasi yang dirancang
secara serius untuk melahirkan pemimpin bangsa yang berintegritas dan visioner.
Konsep Kegiatan yang Memadukan Teori dan Praktik
Sekolah Kepemimpinan Nasional 2025 didesain dengan konsep
yang memadukan pendalaman materi di dalam kelas dengan kunjungan lapangan ke
berbagai institusi strategis. Direktur SKN 2025, Dr. Abdullah Sumrahadi, M.Si.,
menjelaskan bahwa kurikulum dirancang untuk membekali peserta dengan tiga
risalah utama kepemimpinan dalam Islam: menyempurnakan akhlak, budaya literasi
(Iqra'), dan menyebarkan rahmat bagi semesta alam.
Konsep ini diwujudkan melalui serangkaian sesi yang fokus
pada penguatan integritas, wawasan kebangsaan, analisis kebijakan publik,
hingga strategi komunikasi politik. Para peserta tidak hanya duduk mendengarkan
ceramah, tetapi juga terlibat aktif dalam diskusi, studi kasus, dan simulasi
pengambilan keputusan. Tujuannya adalah untuk membentuk pemimpin yang tidak
hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan
spiritual, sesuai dengan filosofi kepemimpinan Jawa “ngluruk tanpa bala,
menang tanpa ngasorake” (berjuang tanpa massa, menang tanpa merendahkan).
![]() |
| Salah satu sesi materi bersama Dr. HM. Busyro Muqoddas, S.H., M.Hum |
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. H. M. Busyro Muqoddas, S.H., M.Hum., menegaskan bahwa kurikulum SKN sengaja mengintegrasikan pola dakwah Muhammadiyah dengan kepentingan strategis bangsa masa kini. Hal ini menjadi jawaban konkret atas refleksi almarhum Buya Syafii Maarif yang pernah menyebut Muhammadiyah sebagai ‘yatim piatu politik’. Melalui SKN, Muhammadiyah berikhtiar melahirkan kader-kader yang siap mengisi ruang-ruang publik dengan kepemimpinan yang beradab dan mencerahkan.
Deretan Pemateri Kaliber Nasional
Salah satu daya tarik utama SKN 2025 adalah kehadiran para
pemateri yang merupakan tokoh-tokoh kaliber nasional. Para peserta mendapatkan
kesempatan langka untuk belajar dan berdialog langsung dengan figur-figur yang
selama ini hanya mereka saksikan melalui layar kaca atau media massa. Di antara
para tokoh yang hadir memberikan materi adalah Prof. Dr. H. M. Amien Rais,
M.A., mantan Ketua MPR RI; Ganjar Pranowo, S.H., M.I.P., tokoh politik
nasional; Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gubernur DIY; serta jajaran pimpinan
pusat Muhammadiyah seperti Prof. Dr. H. Haedar Nashir, M.Si., dan Dr. H. M.
Busyro Muqoddas, S.H., M.Hum.
Kehadiran para tokoh ini memberikan wawasan mendalam dari
berbagai perspektif, baik dari kalangan akademisi, politisi, negarawan, hingga
praktisi kebijakan publik. Bagi Ainnur, pengalaman ini sangat berharga dan
melampaui ekspektasinya.
“Sungguh sebuah pengalaman yang sangat berharga. Bertemu dan
berdiskusi dengan mereka secara langsung membuka cakrawala baru bagi kami,”
ungkapnya penuh antusias. Ia menambahkan, sesi diskusi dengan para tokoh
tersebut tidak hanya bersifat teoretis, tetapi juga sarat dengan pengalaman
praktis dalam mengelola negara dan menghadapi tantangan kebangsaan.
Heru Fatriyadi, rekannya dari Pemuda Muhammadiyah Kotim,
mengamini hal tersebut. Menurutnya, interaksi dengan para pemateri memberikan
inspirasi dan motivasi yang luar biasa. Ia merasa lebih siap untuk
berkontribusi bagi daerahnya setelah menyerap berbagai ilmu dan pengalaman
selama mengikuti SKN.
Dukungan penuh dari LHKP PWM Kalimantan Tengah, yang
dipimpin oleh H. Muhammad Rizal, S.H., menjadi bahan bakar semangat tambahan
bagi keduanya. Dengan bekal ilmu dan jaringan yang didapat dari SKN 2025,
Ainnur dan Heru diharapkan dapat menjadi agen perubahan yang membawa kemajuan
bagi Kalimantan Tengah dan Indonesia di masa depan, sejalan dengan tujuan utama
penyelenggaraan sekolah kepemimpinan ini. [KZ]



Tidak ada komentar